Muara Sungai Landak, perusahaan HTI terhubung dengan APP, terindikasi tebang hutan alam bergambut di Kalimantan Barat

  • Before-Salah satu area deforestasi, spot seluas 24,4 ha, di dalam konsesi HTI PT Muara Sungai Landak. Gambar drone dipotret pada bulan September 2014 dan September 2017 oleh tim Auriga.
    After-Salah satu area deforestasi, spot seluas 24,4 ha, di dalam konsesi HTI PT Muara Sungai Landak. Gambar drone dipotret pada bulan September 2014 dan September 2017 oleh tim Auriga.
    Before Salah satu area deforestasi, spot seluas 24,4 ha, di dalam konsesi HTI PT Muara Sungai Landak. Gambar drone dipotret pada bulan September 2014 dan September 2017 oleh tim Auriga. After

Peta deforestasi dan gambar drone lahan konsesi HTI PT Muara Sungai Landak di Kalimantan Barat, dipotret pada rentang 2014 – 2017. Terlihat kerusakan hutan alam dan pembangunan hutan tanaman Akasia di lahan gambut, di konsesi HTI tersebut.

Investigasi Associated Press (AP) pada Desember 2017 menyimpulkan bahwa PT Muara Sungai Landak (MSL) yang memiliki konsesi HTI di Kalimantan Barat, mempunyai keterkaitan kepemilikan dengan Asia Pulp & Paper (APP) dan konglomerasi induknya, Sinar Mas Group. Meski begitu, APP membantah hasil investigasi Associated Press, dan menyatakan “MSL bukanlah pemasok APP dan tidak memiliki hubungan bisnis dengan APP.”

Menindaklanjutinya, Greenpeace melakukan investigasi tersendiri, dan hasilnya mengonfirmasi temuan Associated Press tersebut. Greenpeace pun memutus hubungan dengan APP. Menjawab Greenpeace, APP menyatakan bahwa APP sendiri telah melakukan investigasi yang “menemukan bahwa tiga dari pemegang saham MSL, bukan dua sebagaimana temuan AP dan pernyataan Greenpeace, terhubung dengan APP.”

Landsat 8 - 2013

Juni 2013

Landsat 8 - 2014

Agustus 2014

Landsat 8 - 2015

Juli 2015

Landsat 8 - 2016

April 2016

Landsat 8 - 2017

Juni 2017

Citra Satelit berasal dari Landsat 8 dan diunduh dari Earth Explorer.

Meski APP tidak mencantumkan MSL sebagai pemasok kayunya, namun keterkaitan pemegang saham yang diinvestigasi oleh Associated Press mengindikasikan adanya ikatan kepemilikan antara MSL dengan Sinar Mas Forestry, pemasok serat kayu APP. Terdapat juga bukti pendukung bahwa sepuluh (10) tahun lalu Sinar Mas Forestry mencantumkan MSL dalam rencana ekspansinya. Selain itu, sebagaimana diberitakan Strait Times, situs web APP mengunggah peta kebakaran hutan di konsesi mitranya di Kalimantan Barat, dan MSL tercantum di sana. Meski, peta itu dihapus setelah adanya berita Strait Times tersebut.

Walaupun APP mengklaim telah mencapai target keberlanjutannya, namun hingga saat ini (Mei 2018) – lebih dari lima tahun sejak APP menginisiasi Kebijaksanaan Konservasi Hutan (FCP) – belum tersedia sistem yang kredibel dan transparan bagi pemantau independen guna memastikan pabrik-pabrik APP tidak lagi menggunakan kayu dari hutan alam.

Sejak Desember 2016, begitu APP mengoperasikan OKI Mill, pabrik raksasa ketiganya di Sumatra, kebutuhan kayu tahunannya di Indonesia meningkat hingga 75%. Meski memiliki sejarah panjang menggunakan kayu dari hutan alam, APP hingga sekarang belum membuka ke publik rencana pasokan kayu jangka panjang yang kredibel sejak APP memutuskan membangun OKI Mill. Karena itu, pembangunan OKI Mill meningkatkan tekanan terhadap hutan alam dan lahan gambut, area yang kandungan karbonnya tinggi, justru ketika Pemerintah Indonesia sedang giat-giatnya mendorong restorasi gambut setelah bencana kebakaran 2015 lalu.

Peta Gambut

Konsesi HTI seluas 13,000 ha milik PT Muara Sungai Landak seluruhnya berada di wilayah gambut. Berdasarkan peta Kementerian Pertanian tahun 2011, kedalaman gambutnya sekitar 1 hingga 2 meter. (Peta dikompilasi Auriga)

Peta Gambut

OKI Mill di Sumatra Selatan mulai berproduksi pada Desember 2016. Pabrik raksasa ini merupakan salah satu pabrik pulp yang terbesar di dunia, dan sebagian besar pasokan serat kayunya berasal dari lahan gambut yang dikeringkan.